92 Akademisi Meno­lak Om­nibus Law

22nd April 2020    82 Views

METRO, beritadepan.com – Se­banyak 92 akademisi, ter­catat 3 Pro­fe­sor –2 di­antaranya adalah Guru Be­sar, 30 Dok­tor, 57 Mag­is­ter dan 2 Sar­jana. Petisi telah di­u­mumkan kepada kha­layak pub­lik dalam Kon­fer­ensi Pers on­line berta­juk “92 Akademisi Meno­lak Om­nibus Law” pada Rabu 22 April 2020 pukul 14.00 s/​d 16.00 WIB.

Pengu­mu­man terse­but sekali­gus se­ba­gai sim­bol peny­er­a­han petisi kepada Pres­i­den dan DPR RI se­cara ter­buka, se­hingga da­pat men­jadi per­tim­ban­gan Pres­i­den dan DPR RI un­tuk menghen­tikan pem­ba­hasan dan men­cabut Om­nibus Law dari Pro­gram Leg­is­lasi Na­sional.

Melalui siaran per­snya para akademisi terse­but me­man­dang Om­nibus Law RUU Cipta Kerja adalah ran­can­gan yang sarat akan kon­tro­versi dan telah men­da­pat banyak peno­lakan dari berba­gai el­e­men masyarakat sipil, ter­ma­suk akademisi.

Prof. Susi Dwi Har­i­janti, S.H., LL.M, Ph.D men­gungkap­kan bahwa proses pem­ben­tukan Om­nibus Law RUU Cipta Kerja telah melang­gar asas keter­bukaan karena di­lakukan se­cara tidak transparan dan minim par­tisi­pasi pub­lik.

“Se­lama proses per­an­can­gan, Pe­mer­in­tah tidak per­nah se­cara ter­buka menyam­paikan kepada masyarakat, bahkan terke­san sem­bunyi-sem­bunyi dan pub­lik baru da­pat men­gak­ses­nya sete­lah RUU terse­but se­le­sai di­ran­cang oleh Pe­mer­in­tah dan dis­er­ahkan kepada DPR. Hal ini tentu melang­gar asas keter­bukaan yang ter­can­tum dalam Pen­je­lasan Pasal 5 hu­ruf g Un­dan­g-Un­dang No. 12 Tahun 2011 ten­tang Pem­ben­tukan Per­at­u­ran Pe­run­dang-Un­dan­gan.” ucap akademisi yang sekali­gus men­jadi Guru Be­sar Hukum Tata Ne­gara Uni­ver­si­tas Pad­ja­jaran terse­but.

Se­jalan den­gan sikap kri­tis terse­but, Prof. Ir. Yonar­iza, M.Sc, Ph.D yang meru­pakan Guru Be­sar Ekonomi Per­tan­ian Uni­ver­si­tas An­dalas juga meny­atakan meno­lak Om­nibus Law RUU Cipta Kerja.

“Sub­stansi Om­nibus Law RUU Cipta Kerja ter­lalu berkarak­ter kap­i­tal­isme – ne­olib­eral yang hanya in­gin menge­jar per­tum­buhan ekonomi na­mun men­gor­bankan ke­se­jahter­aan rakyat serta tidak berwawasan pem­ban­gu­nan berke­lan­ju­tan. Karak­ter terse­but tentu tidak sesuai den­gan amanat kon­sti­tusi dalam Pasal 33 UUD 1945”, serunya.

Se­men­tara terkait isu kete­na­gak­er­jaan, Dr. Devi Ra­hayu, S.H., M.Hum. juga menye­salkan dan meno­lak adanya Om­nibus Law RUU Cipta Kerja karena menin­das ke­las pekerja melalui sis­tem pen­gu­pa­han berdasar jam kerja.

“Dalam Om­nibus Law RUU Cipta Kerja, upah di­hi­tung berdasarkan jam kerja dan tentu akan san­gat merugikan pekerja karena upah bisa jadi dibawah UMP. Se­lain itu, upah den­gan sis­tem jam kerja ini se­cara otoma­tis meng­ha­pus hak-hak pekerja perem­puan yaitu hak atas upah saat izin haid, cuti hamil dan melahirkan. Pekerja perem­puan yang hen­dak meng­gu­nakan hak terse­but akan di­ang­gap tidak bek­erja se­hingga tidak berhak men­da­p­atkan upah. Pada­hal hak-hak terse­but meru­pakan hak dasar pekerja perem­puan yang se­harus­nya di­jamin oleh un­dang-un­dang.” pa­parnya.

Se­lain itu, Dr. Devi Ra­hayu, S.H., M.Hum. juga meny­oroti sis­tem out­sourc­ing dan prak­tik PHK yang akan meluas. “Pekerja akan se­makin gam­pang di-PHK karena pen­gusaha tidak lagi wa­jib mem­beri Surat Peringatan 1, 2 dan 3. Se­lain itu, RUU Cipta Kerja juga mem­beri kelelu­asaan bagi selu­ruh je­nis kerja un­tuk di­al­i­h­dayakan, tidak adalagi pem­beda an­tara bis­nis utama dan kegiatan pe­nun­jang”, tam­bah­nya.

Se­men­tara itu, ahli hukum lingkun­gan, Dr. An­dri Wibisana, S.H., LL.M men­gungkap­kan bahwa lingkun­gan hidup akan se­makin ter­an­cam karena di­ha­puskan­nya izin ad­min­is­tratif dan sanksi pi­dana un­tuk as­pek lingkun­gan hidup.

“Pasal 23 dalam Om­nibus Law RUU Cipta Kerja memuat ke­sala­han el­e­menter terkait sanksi ad­min­is­tratif dan pi­dana. Al­hasil, RUU ini bukan hanya mem­per­mu­dah kegiatan us­aha den­gan menghi­langkan per­syaratan ad­min­is­tratif terkait lingkun­gan, tetapi juga bahkan mem­per­sulit adanya pene­gakan hukum ter­hadap pelaku us­aha yang melakukan pelang­garan hukum ter­hadap lingkun­gan hidup. Se­lain itu, dalam Pasal 23 terse­but juga se­cara serius akan mem­bat­asi par­tisi­pasi pub­lik dalam pengam­bi­lan kepu­tu­san yang berkai­tan den­gan lingkun­gan hidup”, kata pen­ga­jar Fakul­tas Hukum Uni­ver­si­tas In­done­sia terse­but.

As­pek per­tam­ban­gan yang san­gat dekat den­gan as­pek lingkun­gan hidup juga dini­lai oleh Dr. Haris Retno Sus­miy­ati., S.H., M.H. berpotensi menim­bulkan banyak masalah.

“Om­nibus Law RUU Cipta Kerja mem­berikan ke­mu­da­han bagi us­aha per­tam­ban­gan. Hal ini je­las men­jadi an­ca­man baru bagi masyarakat di wilayah tam­bang, khusus­nya perem­puan dan masyarakat adat yang se­lama ini men­jadi ko­r­ban serta mener­ima dampak bu­ruk terbe­sar dari berop­erasinya kegiatan us­aha per­tam­ban­gan”, tu­tup­nya. (Petitum)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

PTUN Pekanbaru Bagi Sembako Untuk Masyarakat Dan Ojol

Wed Apr 22 , 2020
<div class="at-above-post addthis_tool" data-url="http://beritadepan.com/2020/04/22/92-akademisi-menolak-omnibus-law/"></div>PEKANBARU, beritadepan.com – Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru, Sri Setyowati SH, MH, menyerahkan sembako untuk masyarakat sekitar kantor Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru dan para ojek online,senin 20 april 2020. Selain Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru, hadir jugaperwakilan dari beberapa Hakim, Sekretaris, dan jajaran PTUN Pekanbaru. Ketua PTUN […]<!-- AddThis Advanced Settings above via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Advanced Settings below via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons above via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons below via filter on get_the_excerpt --><div class="at-below-post addthis_tool" data-url="http://beritadepan.com/2020/04/22/92-akademisi-menolak-omnibus-law/"></div><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt -->