Dampak Akademik Covid 19: Mem­buka Ak­ses yang Ter­tutup

29th April 2020    63 Views

Oleh:
M. Zulfa Aulia
(Editor Petitum.id)

JAKARTA, beritadepan.com – Syah­dan, pan­demi Covid 19 mem­bawa dampak pada banyak penu­tu­pan berba­gai hal yang se­belum­nya (harus) ter­buka. Seko­lah, kan­tor, tem­pat wisata, rumah ibadah, hingga ak­ses jalan kam­pung dan kini juga kota, banyak yang di­tutup. Kalaupun tidak di­tutup ya di­batasi.

Intinya, arus per­jumpaan dan ma­suk-keluar orang-barang kudu diku­rangi. Agar penye­baran wabah tidak se­makin meluas. Maka, frasa lock-down, den­gan vari­asinya yang cukup menghibur seperti lock dong, dan terkadang jus­tru menen­tang mak­sud­nya semi­sal lock don’t, kini men­jadi trend­ing di masyarakat, terutama di pintu-pintu ma­suk perkam­pun­gan.

Tapi terny­ata, di ba­lik keter­tu­tu­pan berba­gai hal yang se­belum­nya ter­buka itu, juga di­jumpai fenom­ena se­ba­liknya. Sesu­atu yang se­belum­nya ter­tutup kini malah men­jadi ter­buka. Ter­den­gar aneh, bukan? Tapi it­u­lah seti­daknya yang ter­jadi den­gan berba­gai ak­ses sum­ber in­for­masi dan ilmu penge­tahuan. Me­dia-me­dia penye­dia in­for­masi dan ilmu penge­tahuan, yang dalam situ­asi nor­mal hanya mem­bolehkan ak­ses bagi mereka yang melang­gan, dan be­rarti mem­ba­yar, se­men­jak mewabah­nya Covid ini jus­tru mem­bukanya bagi siapa pun, ter­ma­suk yang tidak melang­gan­nya. Fenom­ena ini unik, dan tulisan singkat ini bermak­sud men­coba mem­ba­canya.

Be­ber­apa Con­toh

Di dalam negeri, Kom­pas dan Tempo adalah con­toh me­dia yang “mem­buka yang ter­tutup”. Kom­pas cetak melalui Kom­pas.id, dan Tempo Me­dia Group (Ko­ran Tempo, Ma­jalah Tempo, dan Tempo Eng­lish), se­belum­nya hanya bisa di­ak­ses se­cara ter­tutup oleh mereka yang melang­gan. Sekarang, saat ter­jadi pan­demi Covid 19, ke­d­u­anya mem­buka ak­ses bagi siapa pun.

Di luar negeri, pener­bit-pener­bit be­sar juga mem­buka ak­ses pub­likasinya: ju­r­nal maupun buku. Cam­bridge Uni­ver­sity Press, Aus­tralian Na­tional Uni­ver­sity, Tay­lor and Fran­cis, El­se­vier, Springer, SAGE, dan juga per­pus­takaan dig­i­tal JS­TORE, mem­beri ak­ses gratis pada ebook dan ju­r­nal­nya se­lama masa pan­demi.

Keter­bukaan ak­ses atas sum­ber in­for­masi dan ilmu penge­tahuan ini je­las men­jadi kabar gem­bira terutama bagi pen­studi yang men­em­puh atau sedang menye­le­saikan tu­gas be­la­jar. Se­bab, tidak banyak lem­baga-lem­baga pen­didikan di dalam negeri, terutama kam­pus, yang mau meng­in­ves­tasikan dananya dalam nom­i­nal yang cukup be­sar un­tuk men­da­p­atkan ak­ses sum­ber-sum­ber ilmu penge­tahuan terse­but. Me­mang ada, tapi itu hanya se­ba­gian ke­cil kam­pus. Maka, ketika kabar ak­ses gratis ini menyeruak, tentu menggem­bi­rakan. Bagi se­ba­gian orang. Ya, se­ba­gian orang. Orang-orang yang mem­bu­tuhkan­nya.

Se­ber­apa efek­tif, itu soal lain, bergan­tung sem­pat atau tidak, mau atau tidak, juga mende­sak atau tidak. Yang pent­ing, sekarang, ak­ses­nya bisa dibuka siapa pun.

Ak­ses Sum­ber In­for­masi dan Ilmu Penge­tahuan

Harus di­akui, ak­ses ter­hadap sum­ber in­for­masi dan ilmu penge­tahuan se­lama ini tidak­lah mer­ata. Pada sum­ber-sum­ber in­for­masi seperti ko­ran dan ma­jalah, me­mang bisa dan san­gat banyak yang melang­gan­nya se­cara in­di­vidu. Tapi, un­tuk ju­r­nal dan buku, pelang­gan pada umum­nya bukan­lah in­di­vidu, melainkan lem­baga-lem­baga ter­tentu saja, bi­asanya kam­pus. Maka, bagi pen­studi di In­done­sia, pil­i­han tem­pat studi akan menen­tukan bisa atau tidaknya men­gak­ses buku dan ju­r­nal-ju­r­nal pent­ing di luar negeri. Kalau su­dah be­gitu, tem­pat studi be­rarti akan tu­rut pula menen­tukan kual­i­tas karya akademik yang di­hasilkan­nya. Jadi, ini soal bisa atau tidaknya kita men­gak­ses sum­ber in­for­masi dan ilmu penge­tahuan, yang pen­garuh­nya bisa ke mana-mana, sam­pai soal kual­i­tas karya. Karena itu, ada be­narnya juga jika ada yang men­gatakan, pen­guasaan ter­hadap sum­ber in­for­masi dan ilmu penge­tahuan akan menen­tukan kual­i­tas dan daya saing sese­o­rang.

Kalau ak­ses in­for­masi dan ilmu penge­tahuan adalah pass­word bagi pen­ingkatan kual­i­tas dan daya saing in­di­vidu, men­gapa ak­ses­nya tidak dibuka saja? Maunya kita sich iya. Tapi ini soal per­sain­gan, juga bis­nis. Dan, dalam per­sain­gan, akan se­lalu ada pi­hak-pi­hak yang in­gin men­gua­sai, men­dom­i­nasi, dan men­gen­da­likan per­sain­gan.

Dalam men­jaga per­sain­gan itu, isu hak cipta lalu di­gu­nakan se­ba­gai sen­jatanya. Dok­trin­nya: siapa yang men­cip­takan, dia yang memi­liki mo­nop­oli un­tuk meng­gu­nakan karya yang di­hasilkan­nya. Orang lain hanya bisa tu­rut meng­gu­nakan­nya juga jika diberi izin oleh si em­punya. Dalam ru­mu­san un­dang-un­dang, ia dise­but hak ek­sklusif. Orang awam menye­but­nya mo­nop­oli. Ek­sklusif atau mo­nop­oli ya sama saja, karena ek­sklusif be­rarti ter­tutup se­hingga tidak ter­buka atau inklusif, dan mo­nop­oli me­nun­jukkan ada kon­trol oleh orang atau pi­hak ter­tentu saja.

Para pener­bit sendiri, apalagi per­pus­takaan, umum­nya bukan­lah pi­hak yang meng­hasilkan su­atu karya se­hingga dise­but pen­cipta. Meskipun bisa saja, yaitu jika pener­bit ini yang mengin­isi­asi su­atu karya dan menang­gung (bi­asanya bi­aya) orang-orang yang meng­hasikan­nya.

Pener­bit, atau pub­lisher, umum­nya hanyalah pi­hak yang dis­er­ahi, atau san­gat mungkin juga mem­inta, su­atu karya dari penulis. Pener­bit dalam hal ini bukan­lah pen­cipta. Pen­cip­tanya tetap-lah mereka yang meng­hasilkan su­atu karya. Se­ba­gai pi­hak yang dis­er­ahi karya un­tuk men­gelolanya lebih lan­jut, pener­bit di sini dise­but se­ba­gai pe­megang hak cipta.

Se­ba­gai pe­megang hak cipta, para pener­bit ini, en­tah un­tuk ju­r­nal atau buku, lalu men­gontrol ak­ses pem­ba­caan dan peng­gan­daan­nya. Pada umum­nya, kon­trol itu berupa ak­ses ter­tutup, dalam arti mereka menutup ak­ses­nya, ke­cuali bagi yang melang­gan­nya. Tentu den­gan syarat harus mem­ba­yarnya. Me­mang tidak selu­ruh­nya. Karena banyak juga pener­bit yang meng­gu­nakan plat­form ter­buka.

Pada ju­r­nal mis­al­nya, seperti yang ham­pir di­gu­nakan oleh selu­ruh ju­r­nal ter­bi­tan In­done­sia, meng­gu­nakan plat­form open jour­nal sys­tem (OJS), yang harus mem­buka ak­ses­nya bagi pem­baca. Tapi un­tuk pener­bit-pener­bit bergengsi, di luar negeri, umum­nya ak­ses­nya harus mem­ba­yar. Ini seperti mem­val­i­dasi hukum ekonomi, se­makin mem­ba­yar dan apalagi den­gan harga tinggi, pro­duk (karya) di­ang­gap se­makin bergengsi!

Lalu men­gapa dalam situ­asi pan­demi Covid 19 ini ak­ses-ak­ses terkon­trol-ter­tutup itu men­jadi dibuka? Apakah ini su­atu ben­tuk ke­d­er­mawanan dari pener­bit? Ataukah agar karya-karya yang dikelolanya da­pat dibaca se­cara lebih meluas? Tulisan ini tentu tidak punya ka­p­a­sitas un­tuk mem­val­i­dasinya. Ini hanya se­buah pem­ba­caan atas fenom­ena yang sedang ter­jadi.

Apakah ia ben­tuk ke­d­er­mawanan pener­bit atau agar karya-karya yang dikelolanya da­pat dibaca se­cara lebih meluas, sebe­narnya sama saja. Karena pada akhirnya karya-karya yang ter­tutup ak­ses­nya men­jadi ter­buka.

Dalam situ­asi yang dise­but ke­d­er­mawanan, dan se­but saja den­gan ke­d­er­mawanan-akademik (aca­d­e­mic-char­ity), maka hal ini nam­paknya mengikuti pula pola-pola ke­d­er­mawanan lain­nya dalam masa pan­demi ini. Banyak orang berpunya yang berbagi kepemi­likan­nya kepada yang tidak berpunya. Ada yang mem­bagi-bagi lang­sung den­gan men­e­mui orang-orang tidak berpunya, dan ada juga yang melalui peng­galan­gan dana sosial. Tentu ini kabar baik, karena den­gan be­gitu mereka yang tidak berpunya tu­rut bisa merasakan kepemi­likan, meski porsinya mungkin ke­cil. Yang re­pot itu kalau yang dibagi bukan per­sis mi­liknya na­mun mem­baginya den­gan men­gatas­na­makan prib­adi! Ah, ini ter­lalu poli­tis.

Ke­d­er­mawanan akademik, jika itu ada, me­mang su­dah sep­a­tut­nya be­gitu. Se­bab, su­atu karya akademik itu di­hasilkan un­tuk ke­baikan-ke­baikan masyarakat dan lingkun­gan. Ia akan berdampak kalau apa yang di­ang­gap se­ba­gai ke­baikan-ke­baikan masyarakat terse­but da­pat dibaca se­cara meluas.

Dalam jangka pan­jang, ke­d­er­mawanan akademik jus­tru meningkatkan rep­utasi akademik penulis dan pener­bit­nya. Ter­lebih, dalam kon­teks hari ini rep­utasi itu diukur den­gan sitasi. Bagaimana su­atu karya akan bisa dis­i­tasi man­akala ak­ses pem­ba­caan­nya saja ter­tutup. Maka, ujung-ujungnya, ke­d­er­mawanan ini mem­beri dampak rep­utasi.

Situ­asi ini per­sis pada ke­d­er­mawanan sosial dalam ben­tuk cor­po­rate so­cial re­spon­si­bil­ity (CSR). Su­atu pe­rusa­haan yang ber­derma sosial dan lingkun­gan, jus­tru akan men­da­p­atkan ni­lai tam­bah dari der­manya, umum­nya dalam rep­utasinya. Sekalipun, ke­d­er­mawanan sosial oleh pe­rusa­haan itu sebe­narnya ya su­atu ke­wa­jiban: mereka mengek­splo­rasi dan mengek­sploitasi ekonomi di su­atu masyarakat dan lingkun­gan ter­tentu kok tidak tu­rut berkon­tribusi pada ke­hidu­pan sosial dan lingkun­gan sek­i­tarnya, je­las ke­bange­tan!

Jadi, sama saja. Derma akademik itu me­mang su­dah se­harus­nya, kok. Be­gitu juga, derma sosial dalam rupa CSR juga su­dah se­mestinya. Me­mang, dalam derma akademik, pi­hak yang men­derma sep­a­tut­nya penulis­nya. Hanya, karena isu hak cipta, penulis bi­asanya tidak punya kuasa un­tuk men­der­manya, dise­babkan su­dah tidak lagi memi­liki kon­trol ak­ses­nya. Ke­d­er­mawanan itu kini men­jadi dikon­trol oleh pener­bit se­ba­gai pe­megang hak cipta.

Demikian­lah, pan­demi Covid 19 telah menawarkan dan mem­buka ke­d­er­mawanan baru dalam ak­ses in­for­masi dan ilmu penge­tahuan. Kita barangkali bisa menye­but­nya ke­d­er­mawanan-akademik (aca­d­e­mic-char­ity). Dalam ke­d­er­mawanan akademik, ak­ses in­for­masi dan ilmu penge­tahuan yang se­belum­nya ter­tutup den­gan berlin­dung pada hukum hak cipta, kini dibuka seluas-lu­as­nya agar se­mua orang memi­liki ak­ses mem­ba­canya. Dan mumpung ke­d­er­mawanan akademik sedang ter­buka-bukanya, mari menikmati dan me­man­faatkan derma pem­ber­ian dari pener­bit-pener­bit berep­utasi itu den­gan men­gak­ses­nya, mem­ba­canya, dan meme­la­jarinya. Karena di rumah saja, maka men­gak­ses­nya, mem­ba­canya, dan meme­la­jarinya ya di rumah saja. (afl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Ke­tua MA RI 2020-2025 Ucap Sumpah Ja­batan Kepada Pres­i­den

Thu Apr 30 , 2020
<div class="at-above-post addthis_tool" data-url="http://beritadepan.com/2020/04/29/dampak-akademik-covid-19-membuka-akses-yang-tertutup/"></div>Jakarta, beritadepan.com – Hakim Agung Muham­mad Syari­fud­din di­am­bil sumpah­nya oleh Pres­i­den Joko Widodo (Jokowi) se­ba­gai Ke­tua Mahkamah Agung (MA) 2020-2025 pagi tadi, Kamis (30/​04). Pengam­bi­lan sumpah di­ge­lar di Is­tana Ne­gara, Jakarta, dan disiarkan se­cara live melalui Chan­nel YouTube Sekre­tariat Pres­i­den. Pros­esi pelan­tikan terse­but di­lang­sungkan den­gan men­jalankan pro­tokol ke­se­hatan Covid-19. Tam­pak […]<!-- AddThis Advanced Settings above via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Advanced Settings below via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons above via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons below via filter on get_the_excerpt --><div class="at-below-post addthis_tool" data-url="http://beritadepan.com/2020/04/29/dampak-akademik-covid-19-membuka-akses-yang-tertutup/"></div><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt -->