Jejak Soeharto di Mesjid Istiqlal Bosnia

7th May 2020    107 Views

13 Maret 1995 menjadi hari yang bersejarah bagi hubungan dua Bangsa, Indonesia dan Bosnia & Herzegovina. Hari itu Presiden Republik Indonesia kedua (alm) Jenderal (purn) Soeharto “memaksa” mendarat di Bandara Sarajevo untuk mengunjungi secara langsung kondisi rakyat Bosnia & Herzegovina yang menjadi korban keganasan agresi pasukan militer Serbia.

Pertemuan 2 jam dengan presiden Bosnia berjalan lancar dan kunjungan bersejarah itu dikemudian hari senantiasa dikenang di Masjid Istiqlal Sarajevo. Nama masjid ini dinamai dengan nama yang sama dengan Masjid Nasional Indonesia di Jakarta. Hingga kini sebagian orang Bosnia menyebut masjid ini dengan nama Masjid Masjid Indonesia

Pembangunan masjid ini adalah bentuk komitmen bangsa Indonesia terhadap Bosnia yang pernah disampaikan Presiden Soeharto saat berkunjung ke negara itu, pertengahan Maret 1995. Masjid ini dibangun di atas tanah seluas hampir 2.800 meter persegi sejak masa pemerintahan Pak Harto dan diresmikan dimasa pemerintahan Ibu Megawati Soekarno Putri.

Masjid Istiqlal dibangun selama dua tahun dengan dana US$ 2,7 juta. Lokasinya memang dipilih di tengah lembah yang di depannya ada tempat tempat parkir yang luas. Desain interior masjid Istiqlal memang berbeda dengan masjid-masjid kebanyakan di Eropa, yang sebagian besar merupakan peninggalan Kerajaan Ottoman pada sekitar abad ke-12 hingga 15.

Masjid Istiqlal lebih terlihat seperti sebuah masjid Indonesia, baik terlihat dari luar maupun di dalamnya. Sebuah kubah bundar terlihat jelas diapit oleh dua menara, dengan cat bernuansa biru muda dominan di tembok luarnya.

Di dekat pintu masuk masjid tersebut, terdapat bagian dari marmer bertuliskan bahasa setempat dan bahasa Inggris Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, masjid Al Istiqlal ini dipersembahkan rakyat Indonesia kepada rakyat Bosnia sebagai simbol persahabatan. Semoga Allah memberkati dan senantiasa melindungi masjid ini.

Masjid Istiqlal terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar digunakan untuk kantor, madrasah, tempat wudhu, auditorium, dan perpustakaan. Lantai dua dan tiga digunakan untuk salat. Dua menara kembar di depan masjid digambarkan sebagai simbol persahabatan kedua negara. Data fisik menyebut dua menaranya masing-masing diketahui mencapai 48 meter. Dan tinggi bangunan masjidnya mencapai 27 meter.

Selain dihiasi kaligrafi Arab dari kayu jati, interior masjid juga dilengkapi lampu gantung hias dari Indonesia. Pintu masuk masjid juga dibuat dari kayu jati bertuliskan huruf Arab. Kubah dome yang menjadi ciri khas masjid di Bosnia juga terlihat pada Masjid Istiqlal. Namun, bedanya kubah pada masjid ini dipenuhi oleh jendela sehingga nur atau sinar matahari bisa masuk ke ruangan masjid

Afriyan petitum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK KERJA KONSTRUKSI

Tue May 12 , 2020
<div class="at-above-post addthis_tool" data-url="http://beritadepan.com/2020/05/07/jejak-soeharto-di-mesjid-istiqlal-bosnia/"></div>Oleh:Basuki Rekso WibowoFakultas Hukum Universitas Nasional081311077905 – basukireksowibowo@ymail.com CATATAN KECIL TERHADAP KETENTUAN PASAL 104 :Tulisan ini fokus pada analisis terhadap ketentuan Pasal 88 UU No.2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.  Namun demikian sebelumnya perlu sedikit untuk diberikan analisis terhadap ketentuan Pasal 104.  Sebagaimana diketahui bersama bahwa UU No. 2 tahun […]<!-- AddThis Advanced Settings above via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Advanced Settings below via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons above via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons below via filter on get_the_excerpt --><div class="at-below-post addthis_tool" data-url="http://beritadepan.com/2020/05/07/jejak-soeharto-di-mesjid-istiqlal-bosnia/"></div><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt -->

Baca Juga